The Butterfly Effect: Ketika Kupu-Kupu Menuju Kepunahan
TAHUN 1859, setelah kapalnya terbakar habis di tengah laut pasifik, Alfred Russel Wallace datang ke Pulau Bacan, Maluku. Di sana Wallace menangkap satu kupu-kupu bersayap emas yang membuatnya jatuh cinta. Dalam bukunya The Malay Archipelago, ia menulis: “Keindahan dan kecerlangan serangga ini tak terlukiskan, dan tak seorang pun kecuali seorang naturalis bisa memahami kegembiraanku yang meluap-luap begitu aku berhasil menangkapnya. Saat aku meloloskannya dari jaring dan membuka sayapnya yang megah, jantungku berdegup kencang… Seharian kepalaku pening, kegembiraanku sangat dahsyat oleh sesuatu yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele.” Kupu-kupu itu dinamai Wallace’s Golden Birdwing Butterfly (Ornithoptera croesus). Salah satu dari belasan spesies di genus Ornithoptera atau kupu-kupu sayap burung, yang merupakan jenis kupu-kupu paling besar di dunia. Jenis ini hanya bisa ditemukan di wilayah utara Australasia termasuk di Papua dan Kepulauan Maluku. Kupu-kupu ini segera men...