Kelelawar🦇

 

Wilayah Tompotika merupakan pusat penting keanekaragaman kelelawar. Pulau Sulawesi, di mana Tompotika menjadi bagiannya, memiliki lebih dari 70 spesies kelelawar, banyak di antaranya endemik—yaitu, tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Tompotika juga kaya dengan formasi gua karst yang langka, yang menyediakan habitat bagi koloni kelelawar yang bertengger di gua.


Inti dari program Kelelawar AlTo adalah perlindungan Pulau Tangkuladi, rumah bagi puluhan ribu rubah terbang di siang hari. Tangkuladi, sebuah pulau tak berpenghuni seluas 7 hektar (17 hektar) di lepas pantai desa Taima, dimiliki oleh sepuluh penduduk desa tetapi telah dilindungi di bawah sewa konservasi yang diadakan oleh AlTo sejak 2013. Pada tahun 2014, pulau ini juga dinyatakan sebagai KKPD resmi ( Kawasan Konservasi Perairan Daerah ), atau kawasan lindung laut setempat, oleh pemerintah kabupaten.


Kelelawar Tangkuladi termasuk Sulawesi Flying Fox endemik ( Acerodon celebensis ), dua subspesies Rubah Terbang Hitam ( Pteropus alecto ), dan beberapa spesies lain yang lebih kecil, dengan jumlah total semua spesies berjumlah puluhan ribu individu. Kelelawar ini sangat terancam: meskipun hanya sedikit orang yang memakannya secara lokal, sebelum dilindungi oleh AlTo, puluhan ribu pemburu komersial menangkap mereka untuk dibawa ke pasar daging hewan liar di Sulawesi Utara. Menjadi mangsa metode penangkapan yang kejam yang menangkap dan merobek sayap mereka dengan kail ikan, dan mati oleh ratusan orang di peti transportasi yang panas dan penuh sesak, kelelawar yang ditangkap untuk perdagangan daging hewan liar mengalami banyak penderitaan sebelum kematian mereka.


Selain itu, kelelawar diketahui terkadang menyimpan penyakit yang, dalam kondisi pasar daging hewan liar yang penuh tekanan dan tidak sehat, dapat menular ke manusia dan menyebabkan penyakit zoonosis yang mematikan seperti SARS dan COVID-19.


Selain itu, karena induk kelelawar hanya menghasilkan satu keturunan per tahun, populasi kelelawar tidak dapat menahan tekanan perburuan yang luar biasa yang mereka alami sebelum perlindungan AlTo di pulau itu. Namun pada tahun 2014, AlTo dan penduduk desa setempat sepakat untuk bekerja sama melindungi dan berpatroli di seluruh pulau Tangkuladi; sejak saat itu kelelawar, penyu, dan satwa liar lainnya yang tinggal di pulau itu telah aman, dan jumlahnya mulai pulih.


Sumber: https://www.tompotika.org/id/kelelawar/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Butterfly Effect: Ketika Kupu-Kupu Menuju Kepunahan

Apa Penyebab Flora dan Fauna di Barat dan Timur Indonesia Berbeda?

Rahasia Pesona Hitam Putih Tapir Sumatera