KEPITING TAPAL KUDA: HEWAN AIR UNIK YANG MEMILIKI BANYAK MANFAAT

 


Negara Indonesia memiliki wilayah perairan 70% sehingga berdampak positif pada keanekeragaman hewan air di Indonesia yang sangat melimpah. Salah satunya adalah keberadaan kepiting tapal kuda (Horshoe Crab) atau yang biasa disebut dengan mimi, belangkas, kepiting ladam, mintuna, dan kepiting bulan. Kepiting tapal kuda memiliki nama latin Tachypleus gigas yang termasuk dalam anggota filum arthropoda, subfilum chelicerata, kelas merostomata, subkelas xiphosura, ordo xiphosurida, dan famili limulidae (Anggraini dkk, 2017). Kepiting tapal kuda dapat ditemukan di area estuari dan pantai selama musim spawning season, kepiting tapal kuda juga menetap di laut dalam secara pasif dengan mengubur diri dengan pasir selama monsoon (non-spawning season) (Nugroho dkk, 2018). Secara umum, ada tiga jenis kepiting tapal kuda Asia yang dapat ditemukan di Indonesia, meskipun pada beberapa perairan hanya ditemukan satu atau dua jenis saja (Sumarmin dkk, 2017). Ketiga jenis kepiting tapal kuda tersebut meliputi Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda dan ditetapkan sebagai satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018, tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi (Rubiyanto, 2012).


Kepiting tapal kuda memiliki peran penting secara ekologi dan ekonomi. Secara ekologi kepiting tapal kuda berperan sebagai bioturbator dan mengendalikan hewan bentik. Selain itu, Kepiting tapal kuda memiliki peran sebagai penyeimbang rantai makanan dan sebagai sumber protein bagi beberapa spesies burung pantai (Beekey et al., 2013). Secara ekonomi, darah kepiting tapal kuda bermanfaat dalam bidang farmasi. Salah satu keunikan yang dimiliki kepiting tapal kuda ini yaitu darah yang berada di dalam tubuh tidak mengandung Hemoglobin melainkan mengandung Hemocyanin. Kandungan ini berfungsi untuk mengangkut oksigen dan mengandung unsur tembaga yang mengakibatkan warna darah kepiting tapal kuda menjadi biru. Darah kepiting tapal kuda juga mengandung unsur amebosit yang berfungsi sebagai pertahanan organisme untuk melawan patogen. (Funkhouser, 2011). Limulus polyphemus memiliki ekstrak darah Limulus Amoebocyte Lysate (LAL), Tachypleus sp. menghasilkan Tachyplesin Amoebocyt Lysat (TAL) dan Carcinoscorpius rotundicau menghasilkan Carcinoscorpius Amoebocyt Lysat (CAL), hal tersebut dapat mendeteksi endotoksin bakteri gram negatif, endotoksin darah manusia, dan patogen pada produk obat-obatan. Industri farmasi LAL dimanfaatkan untuk mensterilkan antibiotik, sebagai detector alat medis sehingga bebas dari kandungan bakteri dan jamur. Manfaat lain dari LAL ini yaitu sebagai bahan baku pembuatan vaksin. Sedangkan pada bagian cangkang selain mengandung chitosan juga dapat diolah menjadi aneka produk seperti lensa kontak, krim kulit, dan penambal luka jahitan di kepala (Funkhouser, 2011).



Sumber: https://fpk.unair.ac.id/kepiting-tapal-kuda-hewan-air-unik-yang-memiliki-banyak-manfaat/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Butterfly Effect: Ketika Kupu-Kupu Menuju Kepunahan

Apa Penyebab Flora dan Fauna di Barat dan Timur Indonesia Berbeda?

Rahasia Pesona Hitam Putih Tapir Sumatera