The Butterfly Effect: Ketika Kupu-Kupu Menuju Kepunahan
TAHUN 1859, setelah kapalnya terbakar habis di tengah laut pasifik, Alfred Russel Wallace datang ke Pulau Bacan, Maluku. Di sana Wallace menangkap satu kupu-kupu bersayap emas yang membuatnya jatuh cinta. Dalam bukunya The Malay Archipelago, ia menulis:
“Keindahan dan kecerlangan serangga ini tak terlukiskan, dan tak seorang pun kecuali seorang naturalis bisa memahami kegembiraanku yang meluap-luap begitu aku berhasil menangkapnya. Saat aku meloloskannya dari jaring dan membuka sayapnya yang megah, jantungku berdegup kencang… Seharian kepalaku pening, kegembiraanku sangat dahsyat oleh sesuatu yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele.”
Kupu-kupu itu dinamai Wallace’s Golden Birdwing Butterfly (Ornithoptera croesus). Salah satu dari belasan spesies di genus Ornithoptera atau kupu-kupu sayap burung, yang merupakan jenis kupu-kupu paling besar di dunia. Jenis ini hanya bisa ditemukan di wilayah utara Australasia termasuk di Papua dan Kepulauan Maluku.
Kupu-kupu ini segera menjadi buruan orang-orang kaya Eropa yang saat itu menunjukkan statusnya lewat koleksi hewan eksotik dalam pigura. Kelak, kupu-kupu ini jugalah yang membawa Wallace merumuskan teori evolusi melalui seleksi alam, serta mengukuhkannya sebagai bapak biogeografi dunia.
Kini, nyaris 165 tahun setelah zaman Victoria itu, Ornithoptera masih menjadi primadona bagi para kolektor kupu-kupu dunia. Obsesi para kolektor ini menjadi salah satu alasan populasi kupu-kupu sayap burung di Indonesia semakin berkurang. Namun, benarkah hanya karena itu?
Jadi Kawan M
EN
The Butterfly Effect: Ketika Kupu-Kupu Menuju Kepunahan
Titah AW
Kurniadi Widodo
Fahri Salam
14/01/2025
25 menit
Ornithopthera priamus betina mengisap nektar bunga nusa indah yang ditanam di sekitar penangkaran milik Ongen di Ambon. (Project M/Kurniadi Widodo)
Dari runyamnya dunia kolektor, deforestasi, hingga krisis iklim, ancaman senyap soal kepunahan kupu-kupu kian membuat istilah Efek Kupu-Kupu tak lagi sekadar metafora.
Cerita ini didukung Pulitzer Center Rainforest Reporting Grant.
TAHUN 1859, setelah kapalnya terbakar habis di tengah laut pasifik, Alfred Russel Wallace datang ke Pulau Bacan, Maluku. Di sana Wallace menangkap satu kupu-kupu bersayap emas yang membuatnya jatuh cinta. Dalam bukunya The Malay Archipelago, ia menulis:
“Keindahan dan kecerlangan serangga ini tak terlukiskan, dan tak seorang pun kecuali seorang naturalis bisa memahami kegembiraanku yang meluap-luap begitu aku berhasil menangkapnya. Saat aku meloloskannya dari jaring dan membuka sayapnya yang megah, jantungku berdegup kencang… Seharian kepalaku pening, kegembiraanku sangat dahsyat oleh sesuatu yang bagi kebanyakan orang dianggap sepele.”
Kupu-kupu itu dinamai Wallace’s Golden Birdwing Butterfly (Ornithoptera croesus). Salah satu dari belasan spesies di genus Ornithoptera atau kupu-kupu sayap burung, yang merupakan jenis kupu-kupu paling besar di dunia. Jenis ini hanya bisa ditemukan di wilayah utara Australasia termasuk di Papua dan Kepulauan Maluku.
Kupu-kupu ini segera menjadi buruan orang-orang kaya Eropa yang saat itu menunjukkan statusnya lewat koleksi hewan eksotik dalam pigura. Kelak, kupu-kupu ini jugalah yang membawa Wallace merumuskan teori evolusi melalui seleksi alam, serta mengukuhkannya sebagai bapak biogeografi dunia.
Kini, nyaris 165 tahun setelah zaman Victoria itu, Ornithoptera masih menjadi primadona bagi para kolektor kupu-kupu dunia. Obsesi para kolektor ini menjadi salah satu alasan populasi kupu-kupu sayap burung di Indonesia semakin berkurang. Namun, benarkah hanya karena itu?
Sejumlah kupu-kupu sayap burung hasil tangkapan Ongen dan karyawan-karyawannya yang menunggu untuk diawetkan. (Project M/Kurniadi Widodo)
“KALAU ke sini saat musim hujan, nggak bisa kita jalan begini. Harus renang.” Ongen bercerita sambil menggandeng tangan saya yang kesulitan menjaga keseimbangan di tengah sungai.
Sejak satu jam lalu kami berjalan kaki menuju penangkaran kupu-kupu miliknya di dalam hutan, di salah satu pulau di Maluku. Untuk ke sana, kami mesti naik motor ke area tambang galian pasir berlumpur, dilanjutkan berjalan kaki belasan kali menyeberangi aliran sungai yang berkelok-kelok. Semakin jauh dari area tambang, air sungai berubah semakin bening dan tumbuhan semakin rapat di kanan-kiri aliran.
Dikerubungi pohon kelapa, kami sampai di penangkaran yang ternyata berupa rumah sederhana bersisian sungai dan bukit berhutan. Lokasi ini strategis sebab area tepi hutan yang terbuka dan dekat sungai memang ekosistem paling ideal untuk kupu-kupu. Bunga soka, pagoda, bugenvil, nusa indah, sepatu, dan beberapa tanaman inang (house plant) memenuhi pekarangan, membuat saya ingat rumah nenek.
Di sela-selanya puluhan kupu-kupu beragam warna dan ukuran terbang berseliweran, seolah tak peduli dengan ancaman empat jaring sutra yang dijejer di teras rumah. Menoleh ke sisi selatan rumah terlihat inti dari lokasi ini: sebuah kandang penangkaran kupu-kupu sayap burung nyaris seluas lapangan futsal.
“Kalau sedang musim, bisa lebih ramai ini kupu-kupunya, tinggal duduk-duduk ayun jaring, pasti dapat.”
Dari penangkaran inilah bisnis perdagangan kupu-kupu Ongen berjalan. Ia mengembangbiakkan, berburu, dan memasok beragam spesies kupu-kupu eksotik dari kawasan timur Indonesia ke berbagai negara. “Eropa sama Jepang yang biasanya paling banyak permintaan, tapi baru-baru ini malah paling sering ekspor ke China. Hobi kupu-kupu sedang ngetren di sana sepertinya,” jelasnya.
“Salah satu yang paling banyak dicari kolektor adalah Ornithoptera priamus, mahal harganya.”
O.priamus atau Common Green Birdwing Butterfly adalah satu dari 12 spesies kupu-kupu sayap burung yang menjadi primadona para kolektor. Disebut sayap burung karena bentang sayapnya terhitung raksasa jika dibanding kupu-kupu biasa dan gaya terbangnya lebih mirip burung. Di Indonesia, semua spesies kupu-kupu sayap burung termasuk hewan yang dilindungi.
Saat ini O.priamus adalah satu dari sedikit invertebrata yang masuk dalam daftar appendix II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Artinya, bisa diperjualbelikan dengan memenuhi syarat dan izin tertentu. Spesies inilah dikembangbiakkan Ongen di penangkaran miliknya.
Ongen menjalankan bisnis ini sejak 2021 setelah ayahnya meninggal. Ayahnya jugalah yang mengenalkannya pada dunia kupu-kupu sejak kecil. Barangkali itu juga yang membuat Ongen seperti ahli kupu-kupu amatir; seorang aficionado. Nyaris semua pengetahuan seputar kupu-kupu ia kuasai di luar kepala.
“Dulu sering ikut ayah menemani kolektor kupu-kupu dari Jepang berburu di hutan, kayaknya sejak tahun 1972,” kenangnya.
Di penangkaran ini Ongen punya lima karyawan yang membantunya mengurus semua hal. Dari menangkap kupu-kupu sayap burung betina untuk indukan, mengawasi telur, memastikan pangan untuk ulat-ulat, merawat kepompong dan house plant, hingga pengemasan. Tanpa sinyal dan listrik, berada di pondok ini terasa seperti di pertapaan. Hanya suara arus sungai, hewan-hewan hutan, dan deru mesin senso dari area tambang yang sayup terdengar.
“Sampai malam pun nggak berhenti itu suara senso, mungkin baru berhenti kalau hutan habis,” ada nada sinis dalam suara Ongen.
Ongen mengajak kami masuk ke kandang kupu-kupunya. Sebuah ruangan setinggi 8 meter berdinding kawat dilapisi jaring paranet hitam transparan. Rasanya kandang ini lebih pas untuk hewan sebesar gajah ketimbang kupu-kupu.
“Di hutan, birdwing itu terbangnya tinggi di atas-atas pohon. Kalau kandangnya pendek nggak bisa terbang mereka, kasihan,” ujar Ongen.
Selain bebungaan, kandang ini dipenuhi daun sirih hutan (Aristolochia) yang merupakan tumbuhan inang O.priamus. Di habitat aslinya Aristolochia biasa ditemukan menjalar di batang pohon-pohon kayu besar di area yang banyak terkena sinar matahari. Tumbuhan Aristolochia krusial di penan
gkaran karena ulat O.priamus hanya mau makan daun ini.
Berjalan masuk, kami terus mendongak dan sesekali terlihat sesuatu berkepak terbang dengan cepat di atas. Jika tak diberi tahu sebelumnya, saya pasti mengira itu adalah burung, benar-benar mirip!
Di satu sudut terdapat ruangan lain seukuran 2×2 meter, sebuah ruang steril. Di dalamnya, terdapat puluhan kepompong menempel pada tiga utas tali. Sebagian besar adalah kepompong O.priamus yang diambil dari telur hasil indukan dalam kandang. Kepompong ini dipindah ke ruang steril supaya kesempatan menetasnya lebih besar.
Ale, karyawan Ongen yang saban hari merawat kepompong, menjelaskan: “Telur ke bayi ulat itu satu minggu, ulat bayi ke dewasa kurang lebih 5-6 minggu, terus dia jadi kepompong 40 hari, baru menetas. Kalau tidak ada predator, dia bisa hidup sampai tiga bulan.”
“Cuma tiga bulan?”
“Itu sudah termasuk umur panjang untuk kupu-kupu.”
Pagi itu saya menunggui satu kepompong yang sudah berwarna kehitaman, tanda hampir menetas. Perlahan saya melihat kupu-kupu itu merangkak keluar dan menggantung di bagian luar kepompong. Kupu-kupu yang baru menetas tak bisa langsung terbang lincah; ia harus mengepak-epak lalu menunggu beberapa jam agar sayapnya kering dan terentang sempurna.
Dan saat itulah ia tiba-tiba hinggap di tangan saya.
Menahan napas berusaha tak bergerak, itu kali pertama saya memegang Ornithoptera priamus jantan yang hidup secara langsung. Dari dekat sekali, sayap beludrunya yang gagah dengan warna hijau-hitam terlihat royal dan mencolok. Juga detail bulu jumbai kremnya, abdomen kuningnya, corak merah di thorax yang seperti rompi, dan probosis barunya; barangkali ia juga sedang menyesuaikan diri dengan tubuh barunya, batin saya.
Saya terkesima dengan warna-warna dan corak simetris yang tersusun sempurna; ia seperti bunga yang baru mekar. Sejenak rasanya nyaris masuk akal kenapa ada orang-orang yang terobsesi dan bersedia membayar mahal untuk bisa mengabadikannya dalam kotak kaca.
Sejurus kemudian, dalam gerakan cepat, Ale meraupnya dengan dua tangan dan menjepit bagian thorax kupu-kupu itu dengan dua jari.
“Harus segera dipencet, mumpung sayapnya masih bagus. Kalau sayapnya rusak, seng bisa dijual,” ujar Ale.
Kupu-kupu yang baru saja belajar mengepakkan sayap barunya itu sekejap kemudian telah mati. Kaku dalam keabadian.
Seperti ada yang patah dalam hati, saya merasa ngilu. Begitu indah, sekaligus begitu rapuh.
Dengan hati-hati, Ale memasukkan kupu-kupu itu ke kertas papilot yang dilipat segitiga. Wadah seperti ini bisa menjaga sayap kupu-kupu awetan tidak rusak dalam waktu cukup lama.
Selain O.priamus dari penangkaran, Ongen juga mendapatkan setoran kupu-kupu dari para pemburu di Pulau Seram. Kepada saya, ia berkata memodali jaring sutra dan sembako untuk warga di sana yang mau beralih profesi menjadi pemburu saat musim kupu-kupu tiba setiap tahun. Para pemburu ini akan masuk hutan selama berminggu-minggu untuk mengumpulkan sebanyak mungkin jumlah dan jenis kupu-kupu. Karena sifatnya asal tangkap, Ongen tak bisa mengatur apakah yang ditangkap para pemburu ini kupu-kupu jenis dilindungi atau tidak.
“Bisa ratusan orang dan hasilnya ribuan ekor. Jadi mereka bawa logistik, lalu masuk ke hutan jauh sekali. Saya ke sana ambil hasilnya tiap beberapa minggu sekali. Itu bawa kertas sampai 30 ribu lembar, terisi semua.”
Sambil menunggu setoran dari Pulau Seram, Ongen dan karyawan-karyawannya kadang juga berburu kupu-kupu di sekitar penangkaran. Berbeda dengan tangkap liar di hutan, aktivitas berburu di penangkaran ini terasa mudah, cenderung tanpa usaha.
Sumber: https://projectmultatuli.org/the-butterfly-effect-ketika-kupu-kupu-menuju-kepunahan/


woww sangat menarik dan bermanfaaat, saya jadi tau apa itu kupu kupu 😍😍😍🥰🥰🥰🥰😊😊
BalasHapuswow.....
Hapussemangat bikin blognya sist 🐒😍
BalasHapusmaaci bestiee
HapusSungguh indah
BalasHapuskeren sekali wahh
BalasHapusSangat bermanfaat informasinya
BalasHapussyantik sekali dan sangat bermanfaat
BalasHapuswow bagus bingits
BalasHapusincredible 😍
BalasHapusiih kerennn ini mama nya ulet ya 😮😮
BalasHapuspapa nya siapa
HapusInformasi yang disampaikan sangat bagus, lengkap, dan mudah dipahami. Penjelasannya tersusun dengan baik sehingga membantu pembaca menambah wawasan dan memahami materi dengan lebih jelas. Semoga ke depannya semakin banyak informasi bermanfaat seperti ini yang dapat dibagikan. Terima kasih atas informasinya.
BalasHapusbagus bagus
BalasHapuskupu kupu nyaa imutttt
BalasHapusSangat lengkap
BalasHapuskeren
BalasHapusWow butterfly effect
BalasHapusbutterfly nya lucu imut gitu deh, kakak nya lagi butterfly era juga ga kak?
BalasHapusmutia lagi butterfly era kah
Hapuskupu kupu!
BalasHapussyanauuu imut
BalasHapusapa ya aryo ini
Hapuskamu pasti sukses
BalasHapuskhamsahamida rohman
Hapuswoo
BalasHapusKUPU KUPU JANGAN PUNAHHH😭😭😭😭😭
BalasHapusomagaaa
BalasHapussing apik
BalasHapussangat informatif
BalasHapus